Karawitan mungkin sudah tak asing lagi di telinga murid Smada Kediri, apalagi anda yang berjurusan Seni Musik. Pelajaran menjadi pelajaran wajib. Musik tradisional inilah yang juga diperlombakan dalam Perayaan Hari Besar Nasional Hari Kartini tahun ini, berbeda dengan tahun lalu yang tak diadakannya perlombaan ini. Untunglah dalam pelaksaannya peserta dibantu oleh unit karawitan, para pengikut ekstrakulikuler karawitan ini. Tentunya dengan bimbingan dari Pak Bambang Tri Pambudi sehingga terciptalah alunan gending Jawa yang indah dan sesuai dengan nada lagu yang sudah ditentukan panitia. Ada tiga lagu yang dimainkan, namun setiap kelas hanya menyanyikan satu lagu. Tiga lagu tersebut diantaranya Swara Suling,
Praon, dan Dipleroki. Dalam perlombaan ini siswa hanyalah menyanyikan lagu yang telah ditentukan. Sedangkan music pengiring, alat-alatnya ditabuh oleh yang tentunya sudah professional yaitu anak ekstrakulikuler karawitan, walaupun terlihat sebagian besar dari mereka nyontek teks notasinya. Yah, maklumlah, sepanjang itu notasinya dengan waktu yang cukup singkat adalah hal yang luar biasa kan? Tapi tak segampang itu untuk menang karena tak hanya factor vocal yang menentukan kemenangan ajang nembang ini karena sebagai nilai tambahnya, kostum, gerakan dan kekompakan turut berpengaruh besar dalam angka nilai yang ditulis para juri.
Praon, dan Dipleroki. Dalam perlombaan ini siswa hanyalah menyanyikan lagu yang telah ditentukan. Sedangkan music pengiring, alat-alatnya ditabuh oleh yang tentunya sudah professional yaitu anak ekstrakulikuler karawitan, walaupun terlihat sebagian besar dari mereka nyontek teks notasinya. Yah, maklumlah, sepanjang itu notasinya dengan waktu yang cukup singkat adalah hal yang luar biasa kan? Tapi tak segampang itu untuk menang karena tak hanya factor vocal yang menentukan kemenangan ajang nembang ini karena sebagai nilai tambahnya, kostum, gerakan dan kekompakan turut berpengaruh besar dalam angka nilai yang ditulis para juri.
Hari Kamis pukul 15.00 sore penyeleseksian diadakan. Setiap kelas tampil sesuai nomor urut yang telah diundi sebelumnya, sewaktu TM (Technical Meeting). Pada TM pun setiap kelas diberi kesempatan untuk latihan bareng para pengiring penabuh gamelan. Namun yang namanya bandel, kita, anak XI IA 5 yang TM cuma si Kepala Suku, Mahag. Alhasil kami tak latihan, maklumlah kelas sebelas adalah masa dimana anda paling malas menjalani hari hari dengan rutinitas sekolah, masa paling nakal. Dan latihan pun akhirnya kami lakukan saat peserta nomor lima tampil, untunglah kami dapat nomor urut agak bontot, nomor sebelas. Kostumpun lebih dari kompak, seragam batik, dengan para cowok berkaos seadanya dan yang mencolok adalah baju Okta menyala ungu layaknya Sinar Ultraviolet. Gerakan diciptakan secara spontan dari tarian gak jelas yang biasanya jadi ritual guyon dikelas. Mengutip dari gerakan ala Cherrybelle sampai Opera Van Java. Setelah sempat dimarahi panitia gara-gara latihan di depan kelas yang notabene ada dibelakang kelas XII IA 7 yang jadi tempat Miss Mass, kami pindah bergeser lima langkah ke lapangan sepak bola. Dan disinalah banyak brainstorm yang yang muncul dari kreatifnya otak orang-orang ini. Keseluruhan ide gila ini dipadukan hingga membentuk rangkaian gerakan lucu dan menarik. Dan tepat sekembalinya Sembilan cewek dan empat cowok ini ke aula, waktunya kita buat stand by behind the panggung.
Tik,tok,tik,tok, beberapa menit kemudian saatnya geng ipa lima ini tampil. Suguhan lucu inilah yang kami usahakan, “yang penting penonton heboh dan ketawa” itulah prinsip kami. Dan alhasil kerja yang tak begitu keras kami terbayar dengan tawa orang-orang yang tentunya familiar bagi anak Smada. Terutama dengan adanya gerakan baru saat bagian “Tulat-tulit kepenak unine” dengan badan berdiri tegak, wajah innoncence, dan petikan dua jemari gak jelas. Alhamdulillah kami menang, menang..gung malu. Yah, kekalahan lah yang kami dapat. Muka kami sebelumnya telah dipasang gedhek, so udah biasa kalo yang namanya Paimo itu heboh, dan kadang out of control. Well, yang terpenting kebersamaan dan kekompakan kita, anak Seperma selalu terjaga dan awet bagaikan daging berbalut formalin.



0 komentar:
Post a Comment